Heavenly Sawarna

 

Rencana dadakan dan persiapan sederhana tak mengurungkan niat saya untuk tetap berangkat bersama beberapa teman untuk menyambangi “Heavenly Sawarna” kalau kata orang-orang sih gitu. Pantai Sawarna yang terletak di selatan provinsi Banten ini sangat memukau penampakan pantai dan kondisi alam sekitarnya. Pertama kali menyebut Sawarna, beberapa orang sekitar saya ada yang mengira itu pantai di Bali, Yogyakarta dan Lombok. Hehee… Salah semua saudara-saudara…

 

Sebelum saya ceritakan pengalaman berkunjung ke pantai Sawarna ini, saya akan tunjukkan posisi pantai Sawarna kalau dari Jakarta, Bandung dan sekitarnya.

 

Image

 

Image

photo by: Andiwenas

 

Nah… Sudah kebayang kan posisi Pantai Sawarna ini ada di sebelah mana kotamu? =D

 

Saya dan 6 orang teman berencana ke Pantai Sawarna menggunakan sepeda motor yang khusus untuk perjalanan jarak jauh atau biasa kita sebut motor khusus untuk touring. Berangkat dari Jakarta hari Jum’at tanggal 7 Juni lalu sekitar pukul 9 malam. Mengapa kami memilih perjalanan malam? Selain menghindari macet, kami juga harus tetap menunaikan kewajiban kami sebagai pekerja kantoran, apalagi saya yang harus menjalani Ujian Akhir Semester dulu. (Maklum, anak kuliahan juga soalnya… hehe… )

 

Berangkatlah kami menggunakan 4 motor melalui jalur Depok – Bogor – Sukabumi – Lebak – Bayah Banten Selatan. Perjalanan malam yang terasa sangat panjang menurut saya, karena kami sampai di lokasi jam 9 pagi keesokan harinya. Memang sih, selama perjalanan menuju kesana, kami sempat berhenti di beberapa rest area guna melepaskan lelah sejenak. ‘ngopi-ngopi’ dulu.

 

Pejalanan menuju kesana memang pas jika menggunakan kendaraan khusus untuk touring. Kondisi jalan rusak setelah memasuki wilayah bayah sangat berbahaya jika menggunakan kendaraan seperti motor bebek standard, motor dengan mesin matic, mobil dengan kondisi ban ceper juga tidak disarankan untuk digunakan kesana. Jalanan yang turun-naik seperti sedang naik kora-kora di dufan. Kebayang kan gimana ekstrimnya? (tapi saya gak kapok kalau diajak kesana lagi… xD )

 

Taraaaa…. akhirnya sampai juga di Desa Sawarna. Eiits… Dari gapura utama Desa Sawarna ini, kita harus melewati kali yang dilalui aliran sungai yang sangat deras. Bagaimana melewatinya? Ini yang jadi persoalan. Kita harus masuk ke Desa Sawarna menggunakan jembatan kayu yang disambung dengan tali tambang besar-besar. Jembatan ini hanya bisa dilalui pejalan kaki, sepeda, dan sepeda motor saja. Dan aturannya, hanya bisa satu sepeda atau sepeda motor saja yang bisa melewatinya. Artinya, kita harus bergantian untuk melalui jembatan itu.

 

Menunggu antrian unuk melewati jembatan.

Menunggu antrian unuk melewati jembatan.

 

Pintu Masuk Desa Sawarna melalu Jembatan ini.

Pintu Masuk Desa Sawarna melalu Jembatan ini.

 

 

 

Setelah berhasil melewati jembatan setapak itu, akhirnya kami memasuki wilayah Desa Sawarna yang juga tidak memiliki jalan besar. Jalannya hanya diperuntukkan pejalan kaki, sepeda dan sepeda motor saja. Jika pengunjung membawa mobil atau bus pariwisata, biasanya diparkir di area parkir di luar desa yang memang khusus disediakan oleh warga setempat. Oiya, masuk ke Desa Sawarna ini kita harus membayar tiket masuk per orang seharga 5.000 rupiah saja.

 

Pemukiman Desa Sawarna ini sepertinya belum terlalu padat. Rumah-rumah warga setempat banyak yang dijadikan home stay untuk disewakan ke para pengunjung. Namun kami tidak memilih untuk menyewa home stay ini. Kami terus masuk kearah pantai. Jika dipetakan, di desa Sawarna ini area pemukiman hanya di depan saja. Area tengah desa digunakan warga setempat untuk bercocok tanam dan ujung desa ini adalah pantai yang kita sebut, pantai Sawarna ini. Kebayang bagaimana struktur desa Sawarna ini kan?

 

Pasir putih yang terdapat di pantai inilah yang menurut saya sangat menarik. Tak kalah indah dengan pantai-pantai di Bali, Lombok, dan di beberapa wilayah Indonesia lainnya, ini merupakan lokasi yang patut kamu kunjungi segera. Tempat wisata yang masih belum terjamah ini, sangat membuat kita yang ingin melepaskan penat perkotaan sangat manjur. Pengunjungnya pun tidak banyak, padahal hari itu saya termasuk di pekan libur panjang lho. Bisa dibayangkan di hari-hari akhir pekan biasa, pasti lebih sedikit pengunjungnya.

 

Tiba di Sawarna langsung mejeng ^^

Tiba di Sawarna langsung mejeng ^^

 

Pantai Sawarna yang menyuguhi keindahan laut dan alam sekitarnya ini ternyata mempunyai banyak spot untuk kita kunjungi selain pantainya itu sendiri. Jika kamu tidak malas, kamu bisa berjalan ke arah timur pantai dimana terdapat Kebun Pari yang mungkin dulunya banyak ikan pari, tapi saya sayangnya tidak menemui itu. Disana terdapat hamparan karang yang banyak digenangi air dan terdapat ikan-ikan serta bintang laut yang bersembungi diantara karang yang digenangi air tersebut.

 

IMG_20130610_012124

Kebun Pari, Pantai Sawarna, Banten.

 

Bintang Laut yang bersembunyi di air yang menggenang di karang-karang.

Bintang Laut yang bersembunyi di air yang menggenang di karang-karang.

 

Lanjut lagi perjalanan saya menuju Tanjung Layar. Kita akan disuguhi oleh dua tebing tinggi yang sangat kokoh diterjang ombak luat Sawarna. Disebelah kanan kiri dua tebing itu ada pagar terbuat dari batu, entah itu karang juga atau bukan, jadi setiap ada ombak yang menghantam pagar batu tersebut, akan menghasilkan benturan hebat yang mengakbitkan air laut menyembur tinggi. Melihat ini, saya seperti sedang ada di kolam renang besar dengan arena yang bisa membuat ombak buatan dan menyemburkan hujan air dengan jumlah yang sangat besar. Keren bangeeeeeet…

 

Tanjung Layar, Dua tebing yang kokoh.

Tanjung Layar, Dua tebing yang kokoh.

 

Tanjung Layar.

Tanjung Layar.

 

Pagar Batu yang ada di sebelah kanan tebing. Dihantam ombak namun tetap kokoh.

Pagar Batu yang ada di sebelah kanan tebing. Dihantam ombak namun tetap kokoh.

 

Setelah dari Tanjung Layar, kita beranjak ke Goa. Tidak jauh dari lokasi Tanjung Layar, tetapi karena hari sudah semakin gelap, saya tidak bisa mengambil foto karena gambarnya gelap. (kamera ponsel saya pun tidak mendukung sepertinya. hehe… )

 

Kami kembali ke pantai dan bermalam di Saung milik Pak Asep yang berada tepat di pinggir pantai. Harga per saung sangat murah menurut saya, semalamnya kami dikenakan seharga 70.000 rupiah saja. Saung itupun bisa berisi maksimal 3 orang dewasa. Murah kan? =D Oiya, jangan lupa malamnya kamu juga bisa meminta bantuan Pak Asep untuk membuuat api unggun. Wah… Makin seru deh!

 

 

 

Pak Asep sedang membuat Api Unggun.

Pak Asep sedang membuat Api Unggun.

 

Saung Pak Asep, Pantai Sawarna, Banten.

Saung Pak Asep, Pantai Sawarna, Banten.

 

 

 

Kamu juga bisa mengirit dengan membawa tenda dan bisa dipasang di area pantai yang sangat nyaman. Kebayang kan kita tidur diatas pasir putih dan diatapi langit berbintang. hehehee… (ini kekaguman yang berlebihan sepertinya… xD )

 

Makin penasaran kan? Yuk segera singgahi pantai Sawarna ini. Apabila kamu hobi surfing, pantai ini sangat high recommended lhooo…. Soalnya banyak bule kece nge-surfing disana… *mupeng*

 

Oiya, ini saya share juga beberapa dokumentasi wisata saya disana. Selamat menikmati…

 

IMG_20130609_111033 IMG_20130610_010433 IMG_20130610_011130 IMG_20130610_011211 IMG_20130610_011620 IMG_20130610_011721 IMG_20130610_011817 IMG_20130610_012544 IMG_20130610_012619 IMG_20130610_012840 IMG_20130610_114720 IMG_20130610_125232

 

 

 

 

15 Juni 2013

 

 

One comment

  1. Halo mau tanya dong kontak pak asep pemilik saung pinggir pantai. Saya rencana mau kesana dan sewa saung. Makasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s