pada hampir tengah malam…

8 Juni 2009, Hampir Tengah Malam

 

Malam perlahan mengiring turun, menjelma hembusan lirih yang membangunkan embun-embun.

Aku gelisah. Membolak-balikkan badan diatas kasur yang pas sukuran badanku ini. Aku hanya menyaksikan turunnya embun dibalik jendela kamar berukuran 3×4 ini. Entah apa yang ada dipikiranku. Selimut tipis ini jauh cukup menghalau dingin, bukan dari angina tau embun, tapi oleh detak yang mati.

Aku menoleh kea rah jam dinding yang terlihat sedikit miring di dinding penyanggahnya. “ah, sebentar lagi!”, sahutku dalam hati. Kian gelisah. Aku pun merebahkan tubuhku kembali. Mencoba diam memejamkan mata. Berharap ketika membuka mata nanti, aku sudah berada di tempat lain. Entah dimana.

 

Pukul 00.00

Suatu hari aku membayangkan kita. Bercanda di teras rumah yang sering kita bayangkan bersama, akan kita bangun di masa depan. Kita bicara hal-hal yang sering kita sangsikan saat muda. Tentang dunia, cinta dan norma-norma yang dahulu gagal memisahkan kita. Betapa kuatnya kita merapalkan doa, menyelundupkan nama masing-masing kita diantara mantra-mantra. Pada doaku, namamu, beserta percikan cita cinta, kurapalkan setiap hari.

Kembali aku gelisah. Membayangkan segala ketidakpastian itu malah membuatku semakin gelisah. Sebatang rokok nikotin-tapi bertar tinggi-menghiasi jemari lentikku. Di ujung filternya melekat lipstick yang berasal dari bibir pasi. Asapnya mengembang di udara membentuk lingkaran-lingkaran, seperti balon dialog cerita komik, menjauh mejemba langit-langit kamarku. Kembali ku menatap keluar jendela, sorot mata kedinginan tanpa ekspresi.

“ya, kutunggu kau nanti sore, kasih. Seperti janjimu…”, ucapku lirih. Aku mematikan rokok yang sengaja tak kuhabiskan. Menutup jendela perlahan tetapi tetap saja jendela tua itu memekikkan bunyi engsel yang sudah berkarat.

Aku kembali merebahkan diri. Melebur dengan malam. Pekat.

 

9 Juni 2009, Matahari yang nakal mulai mengintip

 

Jika hidup semata pelarian, aku akan terus berlari. Seperti Chairil, berlari dan terus berlari, hingga hilang pedih perih.

“Selamat pagi, kamu.”
Kemudian aku, memikirkanmu dalam-dalam, seperti hatiku yang tenggelam di lautan katamu. Rayuan yang tak pernah ingkar untuk selalu hadir dalam cakap kita. Entah kopi itu, atau badai ciuman yang barusan; hati ini selalu berdesir dengan ikhlas saat kau menyapanya lewat telinga.

Aku sangat bersemangat akan hari ini. Hari yang kutunggu-tunggu untuk kita rayakan bersama. Hari burungmu.

Bersikeras ku memikirkan hadiah terindah untukmu. Ah, tak kunjung dapat. Bahkan terbersit pun tidak. Tak ada yang bisa menyampaikan segenap rasa dari palung dada ini kasih. Bahkan aku seringkali tak berakal. Ya, barangkali apabila cinta itu lebih dahulu daripada akal, aku memilih tak berakal untuk mencintaimu.

Masih teringat ketika kuharumi tubuhmu, karena hanya itu yang tersisa sejak kepergianmu kala senja musim itu. Seperti biasa, kehidupanmu diluar sana sungguh menyita waktu-waktu terindahmu untukku. Bahkan kau sesekali mencuri waktumu sendiri sekedar menemuiku di kedai kopi malam itu. Tak banyak percakapan, karena saling menatap saja sudah mewakili berjuta rasa. Beribu harap. Asa.

Aku terpendar sepi,
Menatap nanar masa depan kelak
Entah apa aku jadinya,
Begitupun engkau
Hanya saja,
Aku mulai terbiasa untuk berdiri
Tegap
Dan siap berjalan…
Menapaki setiap detik perjalananku
Menikmati setiap resahku
Menepis semua raguku

 

9 Juni 2009, Pertemuan Senja kita

 

Tak sekedar harap,
Kau sapa malamku
Tak hanya sekejap,
Kau sapu airmataku
Tak mungkin kulupa,
Kau isi sebagian hidupku
Tak akan mungkin,
Kau bisa terganti

Terkadang aku merasa riang saat malam datang. Karena hari-hari pertemuan kita pun perlahan mendekat. Kamu tahu? Semesta ini seperti hidup. Mereka memakan rindu dan cinta sebagai energinya, tentu saja; untuk mendekatkan kita. Tak pernahkah kamu sadari bahwa setiap hari kita makin dekat?

Ditempat ini, entah sudah berapa lama aku menanti. Kulirik jam kuno disudut kafe kecil ini. Ia seperti menunjukkan wajah semburat prihatinnya. Seraya berkata, ia hendak menghiburku, “aku enggan memutarkan jarum-jarumku. Biarlah ia berhenti sejenak. Hingga tak kau rasakan waktu.”

Iringan musik yang mengalun lembut di tempat ini mengingatkanku pada malam-malam basah kita. Dan kurasa hanya aku yang tahu bagian mana dari tubuhmu yang paling kau suka ketika kuciumi.  Ah, sungguh aku merindu. Kini… entah yang ke sekian kalinya aku menanti. Ditempat yang sama. Aku dan jam kuno disudut sana.

Dan senja berada pada tepian garis hitam. Perlahan masuk seakan tak kuasa menahan gelora jingga nya.

Sekali lagi, kita hanya berencana. Kan berjumpa kekasih hatiku ditempat yang terbiasa mendengar cakap kita. Sejenak duka merindu pun luluh seiring mentari yang kian menjauh. Ditelan pekat. Dan aku semakin kalut.

Kulihat siluet kendaraan yang dipayungi lampu-lampu jalan. Tak satupun kulihat siluetmu.

Kasih, melupakah kau?

Atau aku hanya perlu bersabar beberapa cangkir kopi lagi.

Atau sekedar berpura-pura membaca buku agar tak terkesan menunggu untuk sekian lamanya. Hari ini, aku menantikan saat-saat kau datang dan mengahmpiriku yang membawa rajutan rindu. Rindu yang kau tinggalkan sejak malam di musim itu.

Rindu itu pahit, berbuah manis. Dan aku sangat suka menyimpan rindu untuk kusemai di setiap perjumpaan kita.

Kali ini, rajutan rindu kubuat sangat manis saying. Beda dari sebelumnya.

Teruntukmu kekasih.

“mau pesan lagi mbak?”

Suara pelayan wanita itu mengagetkanku dan tersadar sudah jam 8 lewat. Ku lihat telepon selulerku. Tak ada tanda kabar darimu. “Air mineral saja ya mbak, tidak dingin. Terima kasih ya…”, dan aku memutuskan memesan air mineral. Untuk yang ke sekian kalinya setelah bebrapa cangkir kopi kupesan sebelum ini.

Kasih, apakah sebegitu kuatnya jiwa ini hingga kau memberiku waktu untuk terus bersabar. Menantimu berharazp kita rayakan harimu. Membayangkan masa depan dengan segala ketidakpastiannya. Mengharapkan para malaikat di sisi kanan kiri kita mengaminkan. Kita hanya cukup mengimani saja.

 

9 Juni 2009, Hampir Tengah Malam

 

Aku yang masih mencoba terbiasa berdiri,
Mencoba lebih bijak melihatmu jauh disana
Mencoba lebih jumawa melihat diri sendiri
Mencoba lebih lapang akan masa
Masa yang terus mengikuti kita
Masa yang kelak akan menenggelamkan kita
Pada kenyataan dan keadaan

Aku tertawa kecil dan berjalan melihat sekitar trotoar jalan ini yang cukup basah ditumpahi jatuhan duka terindah langit. Sambil kutenteng sepatu merah marun berhak tinggi yang sengaja kubeli untuk pertemuan kita kali ini. Hanya sekedar membuatnya serasi dengan rajutan rinduku ini. Namun kau tak kunjung datang. Nafasmu terdengar sangat jauh. Aroma tubuhmu semilir tertiup angin entah akan dibawanya kemana.

Sampai pada perempatan jalan ini. Aku mendongak keatas. Melihat lampu-lampu jalan memayungiku dengan gemerlapnya.

Dan aku menekuri malam ini dengan geliat tawa mengasihani jiwa yang tetap tegar merajut duka termanisnya.

Pada saat itu,
Aku tetap mencoba untuk berdiri
Meyakini penglihatanku,
Mengakui keberadaanku,
Membiarkan masa membawamu
Jauh bersama mereka,
Mereka akan masa lalu dan juga masa depanmu

Aku tetap disini,
Mencoba untuk lebih bertahan dan tetap berdiri
Pada semua harapanku,
Pada setiap asa ku,
Yang hampir goyah karena hilang tumpuan
Yang hampir merapuh ditengah kenyataan
Yang hampir musnah bersama angin, angin kesedihan

Tapi aku,
Aku jiwa yang akan tetap berdiri meski dengan tumpuan terakhir.

___

 

 

 

5 comments

  1. jika tumpuan terakhir sudah tidak sanggup ku kan berlari, mungkin suatu hari ada tempat untuk ku berhenti bersama bahagia Di tengah malam hampir menjelang larut😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s