gitar, ronde dan di antara mereka pecinta malam…

Well, membicarakan cinta pasti gak ada habisnya. Selelah apapun kita, sejengah apapun kita,p asti masih akan ada ruang untuk kita bicarakan. Cinta, rasa mendasar yangg dimiliki seluruh umat manusia. Cinta yang ada, adanya Cinta. Cinta yang apa adanya, bukan cinta yang ada apanya.

Cinta yang diungkapkan dikala cinta itu memunculkan rasanya. Bisa dimana saja, bisa kapan saja, dan bisa bagi siapa saja. Cinta ini banyak membicarakan tentang mereka. Cinta yang merupakan cinta pertama atau cinta-cinta selanjutnya.

Sosok pencinta yang membuat diri ini mencinta untuk yang kesekian kalinya. Dia dengan segala atribut keindahannya. Dia dengan kecintaannya. Cinta dengan mereka yang pernah mengisi relung hati terdalam kita. Membuat kita mengerti apa suka dan duka. Bagaimana menangis dan tertawa bersamaan.

Saat cinta tiba, saat cinta menyapa, pastikan ruang hatimu masih tersisa walau hanya sepetak saja. Dibawah lampu tempat itu; Aku berdampingan dengan malam, membisikkan satu kalimat tidak palsu, Aku cinta kamu. Dan aku yakin kamu tahu.

Mencintai itu istimewa karena dibutuhkan kekuatan untuk melewati prosesnya. Seperti mencampur racikan warna untuk menghasilkan warna turquoise. Terkadang sedih, marah, bahagia, bosan juga tak urung datar. Seperti laut dan langit yang saling memandang. Namun tak mengerti kemana membawa perasaan itu.

Seperti laut dan langit yang hanya bisa saling memandang. Tanpa mengerti mau dinamakan apa rasa itu. Hanya hujan yang dapat mempersatukannya. Langit adalah ruang kita menyusup serpihan-serpihan kata. Melintasi deru hujan. Dan cinta memang tak pernah bisa dimengerti. Seperti jingga yang setia melukis saat senja. Menaungi rindu yang selalu menunggu.

Dan akhirnya pada saat itu, angin membawaku ketepian horizon. Menyentuh wajahnya. Membentuk komposisi warna pada pertemuan kali itu.

Cinta itu merdu sayang, seperti alunan burung hantu yang merindu.
Cinta yang sabar mengajarku untuk mengeja rindu dengan terbata pada setiap lariknya.
Kubiarkan itu menggores denyut nadiku, yaitu rasa yang tajam dan tegas ketika dipertanyakan keberadaannya; Cinta.

Karena cinta dan air mata, terangkum dalam rindu yang menggebu. Dan aku malam yang melindungimu, menjaga lelap di tidurmu. Dan cinta, sebuah animasi yang kompleks. Lambang perasaan yang terungkap puitis. Walau dera, luka, dan siksa termasuk di dalamnya.
Mencintai, detik waktu yang kulalui untuk menanti. Hingga tiba kalanya, cinta mencintaiku.

______

15.4.12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s