untuk temanku disana… harus kuat ya!!!

Masih berasa banget waktu dokter bilang saya harus opname guna memaksimalkan pengobatan saya. Itu terjadi hampir 2 tahun yang lalu.
Saya memasuki kamar yang berisi 4 ranjang. Belum ada yang terisi, hingga akhirnya saya mengisi salah satunya.
Dingin, sepi.
Dan kala itu, pertama kalinya dalam hidup saya dirawat di tempat ini. Rumah sakit yang dingin, sepi.
Sedih, ingin berontak. Tapi apa daya.
Ketika penyakit jahat itu terus melumpuhkan sedikit demi sedikit organ pernapasan saya.
Sistem motorik saya pun terganggu, tak kuat untuk berjalan normal. Pelan, tak lebih seperti para lansia yang ditopang tonglat untuk berjalan.
Sampai akhirnya dengan berat hati dan tak pernah sedikit pun terpikir untuk tinggal di tempat itu, walaupun ± satu minggu lamanya.
Terapi yang dokter berikan saat itu, terus saya jalani. Infuse yang tak henti. Suntikan di sana-sini. Tak ayal dilakukan. Saya jalani.
Ikhlas… Dan ternyata perjuangan tidak sampai di situ.
Setelah saya diperbolehkan keluar dari tempat itu, saya diharuskan berobat jalan. Dari dua minggu sekali, hingga menjadi satu bulan sekali. Dan saya jalani sampai ± 6 bulan.
Hingga saya menulis artikel ini, dokter sudah menyatakan saya ‘bebas’. Walaupun masih menyisakan ‘bekas’ yang menunjukkan saya pernah menderita sakit itu.
Alhamdulillah, thank GOD untuk semua berkah nya. orang-orang di sekitar saya, yang sangat menyayangi saya sampai hari ini.

Sore ini,
Saya melakukan obrolan text melalui seluler dengan salah satu teman baik saya. Anak perempuan yang sangat pintar. Enerjik. Cerewet pula.
Walaupun bertubuh kecil dengan usia lebih tua dari saya, ia tetaplah teman ‘kecil tapi tua’ saya. Teman satu bangku ketika tahun terakhir di sekolah menengah atas.
Bertanya kabar, senda gurau dan sedikit berbicara rencana ketemuan kita. Saya sedikit terganggu dengan display picture teman saya itu. Dan saya bertanya, ‘itu hasil RO siapa?’, dan dugaan saya tepat.
Hasil RO itu terlihat sangat jelek. Sungguh. Melebihi saya ketika itu.
Gak kuat menahan perihnya sakit itu. Saya menangis.
Membayangkan tubuh kecilnya yang terus digerogoti.
‘Berat badan kamu drop gak?’,
‘Iya, sangat drop.’
Kebayang betapa beratnya ia menjalani.
Dengan tubuh kecilnya sebagai penopang.
‘Kamu harus kuat, apapun yang dokter bilang, kamu harus jalani ya. Ikhlas.’

Hingga akhirnya, obrolan itu terputus. Ia tidak membalas balasan saya yang terakhir.
Jamz sayang… Kamu harus kuat. Harus kuat. Saya larut dalam tangis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s