Kita Semua Punya Masalah dengan Kadar yang Berbeda-beda…

Semalam seorang teman bertanya kepada saya, “Yut, kamu pernah kehilangan semangat gak?”. Saya sempat bingung dengan pertanyaannya. Menurut saya, teman saya itu adalah satu dari sekian banyak teman yang penuh keceriaan. Ya secara kasat mata, keceriaan bisa berarti ia tidak memikirkan kesedihan yang mungkin akan membuatnya tidak bersemangat. Saya akhirnya menyarankannya untuk refreshing sejenak. Kebetulan ini akhir pekan. Barangkali dengan refreshing–yang bisa dalam bentuk sesimpel mungkin, mendaki gunung misalnya–ia bisa kembali bersemangat. Ia mengakui kalau beberapa hari terakhir sedang banyak permasalahan. Bisa jadi itulah yang membuat semangatnya pelan-pelan hilang. Namun. mendengar kata ‘permasalahan’, saya pun seperti bercermin. Saya bisa melihat permasalahan-permasalahan yang lalu-lalang di kepala saya. Permasalahan dengan kadar masalah yang berbeda-beda. Dari masalah sederhana, hinggan masalah dengan tingkat kesulitan yang berlipat ganda. Tapi saya kembali menanggapi pernyataan teman saya tersebut, bahwa kita semua pasti punya permasalahan meski dengan kadar masalah yang berbeda-beda. Tuhan lebih tahu kapastitas makhluk ciptaanNya dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahannya. Mulai dari yang sederhana hingga yang sulit. Semua bertahap. Tuhan pun tidak lantas memberikan yang sulit sebelum kita bisa melewati yang sederhana. Dan semua makhlukNya mendapatkan gilirannya masing-masing sesuai rencanaNya. Jadi, gak perlu pergi jauh seperti yang teman saya ingin lakukan. Padahal ia pun sadar kalau kita tak boleh hanya mengeluh saja. Nah, dari situ kita sebenarnya sudah bisa menemukan strategi penyelesaian masalah, yaitu pikirkan solusi dan jalankan taktik penyelesaian masalah. Selesai. Masalah terpecahkan. =)

 

Minumlah Susu Anda dengan Bijak #5BukudalamHidupku

Judul: Don’t Drink Your Milk
Pengarang: Frank A. Oski, M.D.
Penerbit: Nourabooks
Tahun: 2013
Jumlah halaman: 155

4 sehat 5 sempurna. Konon, makanan sehari-hari tidak akan lengkap tanpa mengonsumsi susu. Tapi ini tidak berlaku bagi saya. Dulu waktu masih SD kelas 1 sih iya, setelah itu tidak lagi. Entah karena apa saya cenderung tidak menyukai semua makanan yang salah satu bahannya adalah susu. Bau susu sangat khas dan itu membuat saya mual.

Banyak orang-orang di sekitar saya heran dengan ketidaksukaan saya ini. Apalagi para ibu yang punya naluri ke-ibu-an selalu berkomentar, “nanti kalau
image

hamil gimana? Kan mesti minum susu…” atau “nanti kalau punya anak, anaknya mau dikasih minum apa, mamanya gak doyan susu gitu…” Persepsi apapun yang ada di pikiran mereka, satu hal yang mungkin dilupakan, ASI.

Slogan-slogan di televisi yang mengajak kita untuk berpikir bahwa asupan gizi akan terpenuhi kalau sudah minum susu. Sebelum minum susu akan tidak seimbang. Kok bisa? Bukannya Tuhan menciptakan ASI untuk manusia. Begitu juga susu sapi, susu sapi pun diciptakan Tuhan ya untuk anak-anak sapi dong. Masa kita sebagai manusia masih juga kepingin jatahnya anak sapi?

***

Sebagai publicist freelance di sebuah penerbit buku, saya beruntung mendapat beberapa buku berdasarkan genre buku yang saya pegang. Ada buku-buku motivasi, parenting, konseling juga buku-buku bertema kesehatan. Saya diberitahu kalau akan ada buku kesehatan yang rilis di bulan Juni yang lalu. Buku itu berjudul “Don’t drink your milk” karya Frank A. Oski, M.D.. Sontak saya tertarik dengan judul buku yang disebutkan tim marketing di penerbit itu. Kemudian beberapa hari setelah itu saya dikirimi buku yang sangat buat saya penasaran ini. Saya yang seorang anti-susu sangat merasa naik daun dengan hadirnya buku ini. Walaupun saya belum membaca buku yang mengungkap fakta mengejutkan di balik mitos kehebatan susu. Sekali lagi, susu yang saya bicarakan di sini adalah susu sapi ya. Lain hal dengan ASI (Air Susu Ibu) yang dikonsumsi secara wajar hingga kurang lebih sampai anak berusia 2 tahun saja. Buku Don’t Drink Your Milk ini juga ditambahkan pengantar oleh dr. Arifianto, Sp.A., sorang dokter anak yang juga penulis dari buku berjudul Orangtua Cermat Anak Sehat. Dalam buku ini, dr. Arif juga menambahkan kalau susu hanya dibutuhkan dalam porsi seperlunya yang juga bisa digantikan dengan sumber-sumber makanan lain yang kaya kalsium.

***

Lantas, apa yang terlintas dalam pikiran kamu ketika mendengar kata “susu”? Hihihi… Saya langsung membayangkan bagaimana ‘bau’ susu itu menyerbak. Tapi anehnya, saya sangat suka susu fermentasi alias yogurt. Saya bisa menghabiskan 2 porsi yogurt di kafe-kafe yang khusus menyediakan produk freeze yogurt. Balik ke pertanyaan di atas, apa yang terlintas dalam pikiran kamu ketika mendengar kata “susu”? Khususnya untuk para orang tua, kira-kira menghabiskan anggaran berapa banyak dalam satu bulan untuk anak yang mengonsumsi susu sapi? Jika susu sapi dihapus dari pola makan, apa alternatif yang tersedia? Alternatif yang tersedia tentunya dibedakan berdasarkan usia masing-masing. Padahal kita semua tahu, kalau susu sapi atau biasa disebut susu formula tidaklah bisa meniru ASI dalam tingkat proteksinya terhadap infeksi. Fyi, sejak 1981, WHO sudah melarang promosi susu formula bayi di negara berkembang dan mendukung konsep bahwa semua bayi harus diberi ASI jika memungkinkan. Biasanya alasan utama Ibu menghentikan asupan ASI bagi bayi adalah pekerjaan. Ibu-ibu yang bekerja cenderung tak mau ambil pusing dengan kebutuhan bayinya lantaran ia berpikir, menggantinya dengan susu formula sudah bisa menggantikan asupan susu bagi anak/bayinya. Sang ibu pasti lupa ya, kalau anaknya itu anak manusia, jadi ya kasih ASI dong… Bisa lebih irit juga kan? :D

***

Buku ini akan membuat kita tak lagi memandang segelas susu dengan cara yang sama. Tak lagi menangisi susu yang tumpah. Tak lagi pusing dengan biaya bulanan yang disita oleh merek-merek susu yang menawarkan beragam slogan-slogan pemasarannya. Saking hebatnya, susu sapi sering dijadikan solusi berbagai masalah kesehatan. Bak jamur di musim hujan, munculah beraneka ragam merek susu. Ada susu untuk bayi, untuk anak sulit makan, untuk remaja yang ingin tumbuh tinggi, hingga untuk para lansia yang ingin tampil awet muda, eh salah, ingin mencegah pengeroposan tulang ding. :p

Buku Don’t Drink Your Milk ini tidak semata saya jadikan pembenaran atas ketidaksukaan saya terhadap susu. Tapi, melalui buku ini, saya berusaha netral dan mendapati berbagai fakta yang dipaparkan Dr. Oski tentang susu yang selama ini kita salah kaprah menilainya. Satu hal yang ingin saya sampaikan bersamaan dengan buku ini adalah kutipan tulisan dr. Arif dalam buku ini yaitu, “minumlah susu Anda dengan bijak. Karena susu sapi adalah untuk sapi. ASI untuk manusia.”

Salam.